Hukum larangan-larangan ihram 
Hukum larangan-larangan ihram sebagaimana disebutkan di atas adalah : kelima larangan pertama, orang yang melakukan salah satu darinya, maka ia wajib membayar fidyah, yaitu puasa 3 hari, atau memberi makan 6 orang miskin yang masing-masing mendapatkan satu mud [544 gr] gandum, atau menyembelih seekor kambing. Hal ine berdasarkan firman Allah SWT.
“Jika daiantara kalian yang sakit atau ada gangguan dikepalanya (lalu ia bercukur) maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu berpuasa, bersedekah atau berkurban.”(Al-baqarah 196)
Adapun orang yang membunuh binatang buruan, maka ia harus menggantinya dengan binatang ternak  (unta, sapi, kambing) sesuai dengan binatang yang dibunuhnya.
Perbuatan-perbuatan yang dapat mengarah pada hubungan suami istri, maka pelakunya harus membayar dam yaitu menyembelih seekor kambing. Sedangkan melakukan hubungan suami istri, sesungguhnya perbuatan ini telah merusak atau membatalkan haji. Tetapi pelakunya wajib meneruskan hajinya samapai selesai dan ia harus berkurban menymbelih unta, jika ia tidak mendapatkannya, maka ia harus puasa 10 hari, dan ia harus mengulangi hajinya di tahun berikutnya, ketentuan ini berdasarkan riwayat Malik dalam al-Muwathatha (kitab haji) bahwa Umar bin Khathab, Ali bin Ali Thalib, dan abu Hurairah pernah ditanya seseorang tentang seorang suami yang menggauli istrinya ketika ia melakukan ihram untuk haji? Mereka menjawab: bahwa pasangan suami istri tersebut harus meneruskan hajinya sampai keduanyamenyelesaikan hajinya , kemudian keduanya harus melaksanakan haji pada tahun yang akan datang dan wajib hadyu, yakni berkurban.
Mengenai akad nikah, melamar, dan semua dosa, seperti menggunjing, mengadu domba, dan seluruh perbuatan yang termasuk dalam kategori fasik, maka pelakunya harus bertaubat dan beristighfar, karena tidak ada dalil dari Pembuat Syariat yang mewajibkan kaffarat (denda) atasnya kecuali bertaubat dan beristighfar