A. Syarat-syarat thawaf 
1. Niat ketika akan thawaf , karena seluruh kegiatan tergantung pada niat.
2. Suci dari kotoran dan hadats, berdasarkan khabar (at Tarmidzi:960) yang menyebutkan bahwa thawaf disekeliling Kabah adalah seperti shalat.
3. Menutup aurat karena thawaf seperti shalat, berdasarkan sabda Rasulullah saw.
“Thawaf disekeliling Baitullah  adalah seperti shalat, bedanya kalian bicara di dalamnya (thawaf). Maka orang yang berbicara, maka hendaklah iatidak berbicara kecuali mengenai kebaikan.” (HR.at-Tirmidzi [960]).
Oleh karena itu orang yang thawaf tanpa niat atau dalam keadaaan hadast, atau terdapat najis padanya, atau thawaf dengan membuka auratnya, maka thawafnya batal, dan iawajib mengulanginya.
4. Thawaf harus dilakukan di dalam Baitullah, yaitu didalam masjidil haram, walaupun jauh dari Kabah.
5. Kabah harus berada disebelah kiri orang yang melakukan thawaf.
6. Thawaf dilakukan sebanyak tujuh kali putaran, dimulai dari Hajar Aswad dan diakhiri di Hajar Aswad pula.
7. Putaran Thawaf harus dilakukan berturut-turut, tidak terputus, kecuali jika ada kebutuhan yang mendesak  (darurat). Putaran Thwaf yang dilakukan tanpa berurytan bukan karena darurat, maka thawafnya batal dan wajib diulangi lagi.